BeritakanID.com - Pengamat politik yang ahli kebijakan publik Sudrajat Maslahat menangapi sikap yang ditunjukkan oleh paslon nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka dalam Debat Cawapres, semalam
Dia menilai sikap yang ditunjukkannya konyol, dan tidak beretika.
“Memalukan, menggelikan, dan menjijikan itu kesan saya ketika menonton debat Cawapres,” kata Sudrajat kepada KBA News, Senin, 22 Januari 2024.
Ditambahkan, akhirnya rakyat bisa menilai mana calon cacat hukum, karbitan yang dipaksakan, dan mana calon yang teruji dengan segudang pengalaman, dan track record.
Cawapres nomor 2, katanya, tanpa banyak alat komunikasi yang menempel di tubuhnya segitulah kapasitasnya, hanya mampu mempertontonkan kedunguan, dan kebodohannnya, yang akhirnya menjadi bulan-bulanan cawapres nomor 1, dan 3 akibat pertanyaan yang aneh-aneh bersifat menjebak konyol, dan tengil.
Ditekannya, meminjam istilah komunikasi “Kata adalah Kasta”, demikianlah apa yang meluncur dari mulut seseorang itulah gambaran posisi dirinya pada level mana tingkat inteligen, dan sikap emosionalnya.
Dia mensinyalir, ini akibat ulah calon pemimpin karbitan akhirnya rakyat disuguhkan tontonan panggung demokrasi yang memalukan seperti badut yang kebingungan di atas panggung yang kehilangan peran.
Tidak terpuji
Sudrajat mencatat, berulang kali Gibran memberikan pertanyaan berupa istilah yang menjebak pihak lawan, dan bersikap nyinyir ,dan tengil baik ke cawapres nomor 1 maupun 3. Itu jelas kelakuan yang tidak terpuji.
“Mungkin dengan harapan pertanyaan tersebut dianggap hebat, dan intelek. Justru dia dihajar lawan bahwa pertanyaan tersebut tidak layak, dan tidak pantas dipertontonkan dipanggung debat, dan ditonton khalayak,” kata Alumni FISIP UI itu.
Dikatakannya, Gus Imin menegaskan bahwa ini adalah panggung politisi calon pemimpin mengambil kebijakan (policy) bukan panggung untuk memperdebatkan sebuah istilah atau ungkapan. Bahkan Ketua Umum DPP PKB itu sempat menyinggung soal ijazah palsu. Yang jelas menyindir pada dugaan, dan kehebohan ijazah palsu Jokowi yang sedang diadili di PN Jakput.
Sementara Cawapres nomor 3 Mahfud MD menegaskan bahwa Gibran tidak menjawab persoalan yang ditanyakan, dan ngomong ngawur. Dia tidak ingin melayani pertanyaan receh, dan tidak jelas. Sebagai guru besar ilmu hukum yang bereputasi tinggi, penilaian itu layak untuk disetujui.
“Akhirnya publik bisa menilai bahwa Gibran bukanlah sosok yang mewakili kelompok Milenial Gen-Z yang smart, dan penuh kecerdasan, dia mungkin lebih pas dikatakan terlahir dari generasi sontoloyo. Tepat jika Majalah Tempo menyebut dia sebagai anak haram demokrasi,” kata staf pengajar beberapa perguruan tinggi di Banten itu.
Dari panggung drama politik yang tersaji itu ada hikmah yang bisa dipetik bahwa jika kekuasan dipaksakan, dan jika seseorang yang bukan ahlinya disuruh untuk memegang sebuah urusan tinggal tunggu kehancurannya.
“Semoga publik tersadarkan, dan masih berpikir waras untuk menentukan pilihan pada calon pemimpin, dan semoga negeri ini tetap utuh terjaga dari kehancuran akibat pemimpin yang haus akan kekuasaan.
Sumber: kbanews